Minggu, 03 Juni 2012

Pemberdayaan Penyandang Cacat Miskin (PCM)


Pemberdayaan Penyandang Cacat Miskin (PCM)
Melalui Pelatihan Life Skill dan
KUBE (Kelompok Usaha Bersama)

Widodo dan I Ketut Atmaja JA*

Abstract
Community development means human resource development that is comprehensive and able to ensure a change leading to a better condition. It comprises a number of development dimensions to be taken into account. Yet, the key dimension is the humanbeings themselves. Every human being has their own physical basic needs as well as the need to actualize their existence. This also applies to the disabled people, in particular those who are poor. In Indonesia the disabled people have the equal right and responsibility as other citizens, as contained in Law no 4/1997, Article 1 (Item 1) and Government Regulation no 43/1998, Article 1 (Item1). Therefore, the human resources development programs, including those for the disabled, must be designed with aims to create self-supported community as the realization of their existence in their life and living.

Keywords: Human Resource Development, Empowering the Disabled, Life Skill, Self-supporting

PENDAHULUAN
Pembangunan masyarakat adalah pembangunan sumber daya manusia yang utuh dan menjamin adanya perubahan yang mengarah pada keadaan yang lebih baik. Banyak dimensi pembangunan yang harus diperhatikan untuk mencapai kondisi yang demikian. Dimensi “kunci” yang harus diperhatikan dalam pembangunan tersebut adalah “manusia”.  Konsepsi pembangunan tampaknya semakin mengarah pada penanganan manusia sebagai objek sekaligus subjek pembangunan tersebut. Menurut Korten, dimensi pembangunan telah bergeser dari basic need development mengarah pada people-centred development (Moeldjiarto 1995).
Pembangunan yang berorientasi pada manusia (people-centred development) akhir-akhir ini muncul sebagai salah satu isu yang telah mendunia. Upaya tersebut terfokus pada manusia yang selanjutnya muncul paradigma baru pembangunan manusia, diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index (IPM/HDI). Kesejahteraan masyarakat merupakan indikator penting dalam HDI ini, dengan penjabaran sebagaimana dikemukakan d iatas. Oleh karena itu, Negara harus terus menjamin upaya-upaya dalam rangka menciptakan kesejahteraan masyarakat.
Menurut BPS dan Kompas (2005), dari tahun ke tahun jumlah kemiskinan semakin bertambah. Jumlah kemiskinan tahun 2005 mengalami kenaikan sebesar 15,97% atau mencapai 35,01 juta jiwa dan pada tahun 2006 sebesar 17,75% (39,05 juta jiwa). Jika standar pendapatan 2 dollar AS per hari yang dipakai dalam mengklasifikasikan penduduk miskin, maka jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan menjadi 108 juta orang (Worldbank 2006). Berdasarkan fakta yang dikemukakan oleh BPS maupun WorldBank tersebut sangat jelas memberikan bukti bahwa kesejahteraan masyarakat  masih jauh dari harapan.
Terlebih pada dunia pendidikan yang salah satu masalahnya adalah ketiadaan  relevansi antara pendidikan dengan dunia usaha/dunia industri (DU/DI) di mana kemitraan yang ada belum berfungsi secara optimal, belum berbasis pada masyarakat dan potensi daerah, dan kecakapan hidup yang dihasilkan juga belum optimal.
Berdasarkan data dari Dinas Sosial propinsi JawaTimur tahun 2007 terdapat 145.311 orang penyandang cacat, yang sebagian besar dalam keadaan miskin (Penyandang Cacat Miskin/PCM). Saat ini jumlah penyandang cacat di Jatim saja mencapai 250 ribu orang sedangkan kapasitas pelayanan hanya sekitar 2000 orang per tahun. Pelayanan ini pun belum terstandarisasi dengan bagus (BKKKS Jatim 2005). Dengan kondisi  seperti ini sudah seharusnya  para penyandang cacat miskin mendapat prioritas dalam pengembangan dan pengentasan kemiskinan dengan tujuan utama menciptakan  kemandirian dalam kehidupan dan penghidupan mereka.

LIFE SKILL DAN KELOMPOK USAHA BERSAMA
Penyandang cacat miskin (PCM) merupakan komunitas marginal yang senantiasa tersisih dalam percaturan kehidupan. Meski demikian, mereka sebagai pribadi maupun sebagai anggota keluarga maupun anggota masyarakat mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dengan masyarakat secara umum. Sebagai individu, penyandang cacat miskin memerlukan pengakuan atas eksistensi mereka dan harus mampu melaksanakan kewajibannya dalam keluarga agar tidak menjadi beban. Sebagai anggota masyarakat, mereka juga diharapkan mampu memberikan manfaat dan hidup secara mandiri. Akan tetapi kondisi ideal tersebut dalam kenyataanya sangat berbeda. Sebagian besar dari para PCM dalam keadaan tidak atau kurang berdaya.
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar